Aliman2's Blog
Just another WordPress.com weblog

PRINSIP – PRINSIP IBADAH ISLAM

“Allah SWT berfirman ” Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Allah SWT).” (Q.S Adz – Dzariyat : 56). dalam Ensiklopedi Islam dijelaskan bahwa ibadah adalah sari ajaran Islam berupa pengabdian atau penyerahan diri kepada Allah SWT.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT. Agar beribadah kepada-Nya. Beribadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah SWT yang didasari ketaatan mengerjakan perintah Allah SWT., dan menjauhi larangan-Nya.

Selama hidup didunia, manusia wajib beribadah dan menghambakan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, seluruh aktivitas dan kegiatan manusia harus ditujukan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Islam telah memberikan prinsip-prinsip beribadah kepada Allah SWT. Bagaimana prinsip-prinsip tersebut? Bagaimana pula tujuan (maqasid) syariat Islam dan perilaku orang yang berpegang pada prinsip-prinsip dan tujuan syariat Islam?

Hukum, Islam baik dalam pengertian syariat maupun pengertian fiqih dikelompokkan ke dalam dua bidang, yaitu ibadah dan muamalah.

Mendirikan Shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa dibulan Ramadlan, dan menunaikan ibadah haji termasuk ibadah murni (mahdah). Ketentuan dalam ibadah mahdah ditetapkan oleh Allah SWT, dengan tujuan untuk mengatur hubungan hamba dengan Allah SWT.

Dalam beribadah murni, berlaku kaidah hukum, yakni pada dasarnya ibadah adalah larangan. Maksud larangan di sini adalah larangan berbuat sesuatu bentuk ibadah diluar ketentuan yang digariskan. Misalnya, ketentuan Shalat dan puasa terlarang untuk diubah seperti yang telah diajarkan oleh Al-Qur’an dan Hadits.

Segala macam perikatan, transaksi-transaksi kebendaan, jinayat, dan ‘uqubat (hukum pidana dan sanksinya) termasuk bidang muamalah. Ketentuan hukum muamalah diciptakan dengan tujuan mengatur hubungan manusia dengan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Peraturan-peraturan dan hukum syariat yang berkaitan dengan bidang muamalah merupakan ketetapan Allah SWT. yang langsung berhubungan dengan kehidupan sosial manusia, terbatas pada pokok-pokok saja. Oleh sebab itu, terbuka peluang ijtihad dalam bidang muamalah.

Di bidang muamalah berlaku kaidah hukum umum, yakni pada dasarnya semua perbuatan boleh dilakukan. Ketetapan-ketetapan diperbolehkan nya jual beli inden (memesan barang dengan harga yang akan dibayar setelah barang yang dipesan sudah diserahkan); sahnya suatu pernikahan menurut undang-undang yang berlaku dengan adanya surat nikah; sahnya pemindahan harta milik apabila sudah ada pengakuan yang tertulis di atas kertas bermaterai adalah di antara sekian contoh peraturan-peratueran dan ketetapan yang telah diciptakan dan dibina oleh selain syari’ demi merealisasi kemaslahatan bersama.

Prof. H. Muhammad Daud Ali dalam buku Pendidikan Agama Islam mengungkapkan bahwa ibadah dapat dilihat dari berbagai bentuk. Ibadah dilihat dari segi pelaksanaannya terbagi menjadi tiga:

  1. Ibadah jasmaniah dan rohaniah, yaitu ibadah perpaduan antara jasmani dan rohani, seperti shalat dan puasa
  2. Ibadah rohaniah dan maliah, yaitu ibadah perpaduan antara rohani dan harta, seperti zakat;
  3. Ibadah jasmaniah, rohaniah dan maliah, yaitu ibadah perpaduan antara jasmani, rohani, dan harta sekaligus, seperti ibadah haji

Ibadah dilihat dari segi bentuk dan sifatnya ada lima, yaitu :

  1. Ibadah dalam bentuk perkataan atau lisan, seperti berzikir, berdoa, dan membaca Al-Qur’an.
  2. Ibadah dalam bentuk perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya, seperti membantu meringankan beban orang lain dan berpartisipasi dalam mengurus jenazah;
  3. Ibadah dalam bentuk pekerjaan yang telah ditentukan wujudnya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji;
  4. Ibadah yang tata dan pelaksanaannya berbentuk menahan diri, seperti, puasa, iktikaf, dan ihram;
  5. Ibadah yang sifatnya menggugurkan hak, seperti memaafkan orang lain yang telah melakukan kesalahan terhadap dirinya dan membebaskan orang yang berutang dari kewajiban membayar.

Berdasarkan uraian pembagian bentuk ibadah dari segi pelaksanaan, bentuk, dan sifatnya di atas, sesungguhnya secara garis besar, ibadah dibagi menjadi dua, yaitu ibadah khassah (khusus) dan Ammah (umum)

Ibadah khasssah (khusus) adalah ibadah yang ketentuan dan pelaksanaannya datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Ibadah khassah (khusus) dikenal juga dengan istilah ibadah mahdah (yang ketentuannya pasti). Ibadah ini merupakan sari ibadah kepada Allah SWT. Yang termasuk dalam ibadah ini adalah shalat, puasa, zakat dan haji.

Ibadah ‘ammah (umum) adalah semua perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan dilaksanakan dengan niat ikhlas karena Allah SWT, seperti makan, minum, dan bekerja mencari nafkah.

Ibadah Khasssah (khusus) dan ‘ammah (umum) dapat diterima Allah SWT. Jika keduanya dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT dalam Al-Qur’an dan hadis sebagai dasarnya.

Ibadah yang bersifat ‘Ammah (umum) terbuka peluang untuk mengembangkannya dengan jalan ijtihad yang dilakukan seorang yang telah memiliki persyaratan sebagai mujtahid. Artinya, tidakl semua orang dapat berijtihad tanpa memiliki kemampuan khusus, seperti kemampuan berbahasa Arab, mengerti ulumul-Qur’an dan ulumul hadis

1. Tujuan (Maqasid) Syariat Islam

Istilah Maqasidut-tasyri’ dikenal dalam bahasa Indonesia dengan istilah tujuan hukum Islam. Maksudnya, apakah sebenarnya tujuan dari syariat (hukum Islam) itu dibagi umat manusia?

Saeorang pakar hukum Islam, Prof. Dr. H. Suparman Usman, S.H. dalam buku Hukum Islam mengungkapkan bahwa tujuan dari syariat Islam adalah mengatur kehidupan manusia, baik selaku pribadi maupun anggota masyarakat.

Drs. H.M. Asywadie syukur, Lc. Dalam buku pengantar Ilmu Fikih dan Ushul Fikih mengatakan bahwa tujuan syariat Islam adalah mewujudkan kemaslahatan (kebaikan) bagi umat manusia sehingga terdapat keadilan yang merata dan dapat merasakan hidup aman dan tenteram.

Prof. Dr. Mukhtar Yahya dalam buku Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam menjelaskan bahwa tujuan syariat Islam (maqasidut-tasyri’) adalah mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kesempitan umat, terdiri atas tiga hal pokok, yaitu memelihara al-umurud-daruriyah, memenuhi al-umurul-hajjiyah dan merealisasi al-umurut-tahsiniyah.

1. Memelihara Al-Umurud-Daruriyah

Al-umurud-Daruriyah adalah hal-hal yang menjadi sendi eksistensi kehidupan manusia, yang harus ada demi kemaslahatannya. Artinya, apabila sendi-sensi itu tidak ada, kehidupan manusia menjadi kacau-balau, kemaslahatan tidak tercapai, dn kebahagiaan ukhrawi tidak akan dinikmati. Dengan kata lain, al-umurud-daruriyah adalah terpenuhinya kebutuhan primer manusia

Yang termasuk dalam al-umurud-daruriyah (urusan-urusan primer) ada lima, yaitu, agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Agama Islam menetapkan bahwa untuk setiap urusan daruriyah, hukum yang akan menjamin keberadaan dan pemeliharaanya disebut dengan hukum daruri.

Pemberian beban (taklif) di dalam pengadaan dan pemeliharaanya urusan daruri tersebut ditujukan pada dua segi, yaitu segi pengadaan dan segi menolak kemudaratan (menghindari) kerusakan yang mungkin terjadi karenanya).

a.  Segi Pengadaan

Dalam segi pengadaan, syariat mengemukakan rukun-rukun dan menetapkan ketentuan-ketentuannya dalam urusan daruri agama, urusan daruri jiwa dan akal, serta urusan daruri keturunan dan milik. Rukun-ruun dan ketentuan-ketentuan itu adalah sebagai berikut.

1)      Dalam urusan daruri agama, syariat menetapkan rukun dan ketentuan dalam bidang ibadah dasar (khassah) seperti beriman, mengucapkan dua kalimah syahadat, mendirikan shalat, berpuasa, berzakat dan menunaikan haji.

2)      Dalam urusan daruri jiwa dan akal, syariat menetapkan rukun dan ketentuan dalam bidang adat (kebiasaan-kebiasaan yang bukan termasuk ibadah), seperti makan, minum, berpakaian, dan berdomosili di suatu tempat.

3)      Dalam urusan daruri keturunan dan milik, syariat menetapkan rukun dan ketentuan dalam bidang muamala, seperti perintah untuk bekerja dan berusaha secara halal

b.  Segi Menolak Kemudaratan

Dalam menolak kemudaratan, menghindari kerusakan, dan kehancuran  agama Islam, syariat mengadakan beberapa rukun dan ketentuan sebagai berikut :

1)      Menetapkan mcam hukuman pidana bagi orang yang melakukan tindak pidana Islam;

2)      Menetapkan dan mewajibkan memerangi orang yang menghambat dakwah islam;

3)      Memberikan hukuman bagi orang yang murtad

4)      Menghukum orang yang bermaksud megubah hukum syariat;

5)      Menghukum sorang mufti yang menghalalkan hukum yang telah diharamkan oleh syariat;

6)      Memberikan hukuman qisas dan kafarat bagi bagi orang yang dengan sengaja melakukan melakukan tindakan pembunuhan;

7)      Diharamkannya seseorang menjatuhkan diri dalam kehancuran agar terhindar dari kemudaratan yang mengancam jiwa;

8)      Memberikan hukuman bagi orang yang minum khamar dan segala jenis makanan yang diharamkan untuk menolak kemudaratan pada akal;

9)      Mengancam hukuman potong tangan kepada siapapun yang mencuri harta orang lain dan mewajibkan mengganti kerugian bagi siapa pun yang merusakkan harta orang lain.

Hal itu dimaksudkan untuk menolak bahaya yang merusak harta milik seseorang

2.  Memenuhi Al-Umurud-hajjiyah

Al-umurud-hajjiyah adalah hal-hal yang dsangat diinginkan oleh manusia untuk menghilangkan kesulitan dan menolak halangan. Dengan kata lain, Al-umurul-hajjiyah adalah terpenuhinya kebutuhan sekunder dalam kehidupan manusia. Jadi apabila hal-hal tersebut tidak ada, tidak sampai membawa tata aturan hidup manusia kacau, melainkan hanya sekadar membuat kesulitan saja.

Prinsip utama dalam al-umurul-hajjiyah adalah untuk menghilangkan kesulitan, meringankan beban taklif, dan memudahkan manusia dalam bermuamalah dan tukar menukar manfaat.

Untuk maksud tersebut, Islam telah menetapkan beberapa ketentuan dalam bidang ibadah, adat, muamalah, dan pidana Islam (‘uqubat)

  1. Dalam bidang ibadah, syariat Islam memberikan rukhsah (kemurahan) dan takhfif (keringanan) apabila pelaksanaan kewajiban mengalami kesulitan. Misalnya, seseorang diperbolehkan tidak berpuasa pada bulan Ramadlan karena sedang dalam keadaan sakit atau menjadi musafir; diperbolehkan mengqasar shalat karena bepergian; diperbolehkan tayamum karena tidak mendapat air atau tidak dapat menggunakan air 9menurut keterangan dokter)
  2. Dalam bidang adat, syariat Islam menghalalkan makanan dan minuman, pakaian, rumah, dan kendaraan yang diperoleh atau diusahakan secara halal.
  3. Dalam bidang muamalah, syariat Islam memperbolehkan petani yang memiliki sawah untuk mengadakan bagi hasil (muzaroah) dengan pemilik sawah untuk mencukupi kebutuhannya.
  4. Dalam bidang pidana Islam (‘uqubat) syariat Islam menetapkan kewajiban membayar denda, bukan qisas bagi orang yang membunuh karena khilaf dan mengharuskan membayar ganti rugi bagi orang yang merusakkan milik orang lain.

3.  Merealisasikan al-Umurut-Tahsiniyah

Al-umurut-tahsiniyah adalah urusan mengenai tindakan dan sifat yang harus dijauhi oleh akal sehat, dipegangi oleh adat kebiasaan yang baik, dan dihayati olej kepribadian yang kuat. Dengan kata lain, al-umurut-tahsiniyah berkaitan erat dengan tata kesopanan dan keluhuran budi seseorang serta menjadi  kebutuhan tersier manusia.

Apabila al-umurut tahsiniyah tidak dapat terpenuhi, kehidupan manusia tidak sekacau sekiranya urusan daruriyah tidak diwujudkan, seperti tidak terpenuhinya urusan hajjiyah manusi. Akan tetapi, hanya dianggap kurang harmonis oleh pertimbangan akal sehat.

Untuk maksud tersebut, Islam telah menetapkan beberapa ketentuan dalam bidang ibadah, adat, muamalah dan ‘uqubat.

  1. Ketentuan dalam bidang ibadah, seperti kewajiban bersuci dari najis(yang tampak) dan najis maknawi(yang tidak tampak), kewajiban menutup aurat, menjalankan ibadah sunnah, dan memberikan sedekah atau infak kepada orang yang sangat membutuhkan.
  2. Ketentuan dalam bidang adat, sperti kewajiban manusia bertingkah laku yang sopan dalam makan dan minum, menjauhi berlebihan, serta meninggalkan makan dan minum dari seustu yang diharamkan.
  3. Ketentuan dalam bidang muamalah, seperti diharamkannya mengadakan jual beli dengan cara tidak dibenarkan syarak (menipu, menimbun, memperjualbelikan barang najis, dan menakut-nakuti pedagang dari luar kota untuk masuk kota)
  4. Ketentuan dalam bidang ‘uqubat, seperti larangan membunuh kaum wanita, anak-anak, dan para ahli agama pada waktu perang.

Berkaitan dengan ketiga macam maqasidut-tasyri’ tersebut terdapat beberapa ketentuan pelengkap, yaitu maqasid daruriyah, maqasid hajjiyah, maqasid tahsiniyah.

  1. Maqasid daruriyah, ketika Allah SWT mensyariatkan shalat untuk menegakkan dan memelihara agama, Syari’ memerintahkan sebelum shalat dikumandangkan adzan (sesudah masuk waktu shalat) dan dikerjakan dengan berjamaah(sebagai pelengkapnya).
  2. Maqasid hajjiyah, ketika syari’ memberikan kemurahan kepada orang musafir untuk mengqasar shalat, lalu kemurahan itu disempurnakan dengan diperbolehkan menjamaknya.
  3. maqasid tahsiniyah, ketika syari’ mewajibkan bersuci untuk menegakkan urusan tahsiniyah, kewajiban bersuci disempurnakan dengan aturan-aturan sunah bersuci. Contoh lain, ketika syari’ mendorong seseorang senang bersedekah, syari’ menyarankan supaya harta yang digunakan untuk bersedekah diperoleh dari harta yang halal.

Perilaku Orang yang Berpegang pada Prinsip, Tujuan Ibadah dan Syariat Islam

1. Taat Menjalankan Ibadah Khassah dan ‘Ammah.

Umat Islam harus menunjukkan sikap atau kepribadian yang mencerminkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Segala perbuatan umat Islam diketahui oleh Allah SWT. dan harus berdasarkan pada ajaran yang benar secara syarak.

2.  Berbudi Luhur atau Berperangai Terpuji

Setiap umat Islam diperintahkan berperilaku terpuji (memiliki kepribadian yang luhur), seperti hormat kepada orang tua, tetangga, tamu, guru, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Di samping berperilaku yang membawa manfaat kepada diri sendiri dan orang lain, seorang muslim berhak menegur dan menasihati orang-orang yang melanggar ajaran Islam, seperti memaki-maki, menghujat, sombong dan masa bodoh terhadap ligkungannya.

3.  Selalu Menjaga Kesucian Diri

Pada prinsipnya, di mana pun kita berada harus selalu ingat kepada Allah SWT, baik di kendaraan, di rumah, dalam perjalanan, di kantor ketika bekerja, maupun di sawah bagi petani.

Agar senantiasa ingat (beribadah) kepada Allah SWT, kita hendaknya menjaga kesucian diri dari kotoran, baik hadas kecil maupun hadas besar

Dengan menjaga kesucian, kita selalu siap di mana pun dan di saat apa pun untuk mengerjakan perintah Allah SWT. seperti shalat dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

Salah satu bentuk menjaga kesucian diri adalah berwudlu pada setiap saat kita melakukan aktivitas apa pun. Dengan membiasakan berwudlu, kita akan selalu mendapat keberkahan darinya. Apabila tubuh kita dalam keadaan suci, tentu segala perilaku kita menunjukkan perikau yang baik, bukan sebaliknya, yakni perbuatan kotor dan keji.

3.  Menghindari Sikap Munafik

Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam untuk menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya.Tidak disampaikannya amanah yang dititpkan, berarti termasuk orang yang munafik. dan orang yang munafik adalah orang yang suka (selalu) mengatakan sesutau yang tidak sesuai dengan perbuatannya.

Belum Ada Tanggapan to “PRINSIP – PRINSIP IBADAH ISLAM”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: